Memasuki awal 2026, perhatian masyarakat terhadap produk simpanan—terutama deposito—kembali meningkat. Di tengah tren penyesuaian suku bunga dan kebutuhan pengelolaan arus kas yang lebih disiplin, deposito kerap dipilih karena menawarkan kepastian tenor, perhitungan bunga yang relatif jelas, serta risiko yang umumnya lebih rendah dibanding instrumen berfluktuasi. Namun demikian, keputusan menempatkan dana pada deposito tetap membutuhkan pemahaman yang memadai, khususnya terkait penjaminan simpanan, tingkat bunga wajar, hingga pajak bunga.
Melalui rilis ini, TuwagaFinance.id merangkum poin-poin penting yang relevan bagi publik untuk menilai produk simpanan secara lebih objektif: mulai dari membedakan tabungan dan deposito berdasarkan tujuan, memahami prinsip aman menyimpan dana, sampai menghitung imbal hasil bersih agar ekspektasi tidak meleset.
Pada awal tahun, banyak rumah tangga dan pelaku usaha melakukan penataan ulang rencana keuangan: memisahkan dana operasional, menyiapkan dana darurat, dan menempatkan dana menganggur agar tetap produktif. Dalam konteks ini, deposito menjadi alternatif yang sering dipertimbangkan karena menawarkan struktur yang sederhana: nasabah menempatkan dana, memilih tenor, lalu menerima bunga sesuai ketentuan bank.
Hal yang perlu dicermati sebelum memilih deposito:
Deposito cocok untuk dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, karena pencairan sebelum jatuh tempo dapat memiliki konsekuensi tertentu sesuai ketentuan bank.
Perbedaan bunga antar-bank lazim terjadi, tetapi nasabah perlu memastikan bunga yang diterima wajar dan tidak melampaui ketentuan penjaminan simpanan.
Penurunan atau kenaikan suku bunga perbankan dapat memengaruhi strategi pemilihan tenor (pendek vs menengah) agar tetap fleksibel.
Kesalahan yang sering terjadi adalah memilih produk simpanan hanya berdasarkan bunga tertinggi, tanpa memetakan kebutuhan likuiditas. Tabungan, giro, dan deposito memiliki fungsi yang berbeda. Jika tujuannya dana transaksi harian, tabungan lebih tepat. Jika tujuannya mengunci dana agar tidak mudah terpakai sekaligus mengejar bunga, deposito dapat dipertimbangkan.
Panduan praktis memilih produk simpanan:
Tabungan: ideal untuk kebutuhan harian, dana belanja, dan buffer arus kas karena lebih fleksibel untuk keluar-masuk dana.
Deposito: ideal untuk tujuan yang lebih terencana (misalnya biaya pendidikan dalam 6–12 bulan, rencana pajak, atau dana cadangan usaha), karena ada disiplin tenor.
Pendekatan berlapis: mengombinasikan tabungan untuk likuiditas dan deposito untuk dana yang “diparkir” agar rencana keuangan lebih tertib.
Dalam memilih deposito, aspek keamanan perlu menjadi dasar—bukan pelengkap. Publik perlu memahami bahwa simpanan perbankan memiliki skema penjaminan, namun penjaminan tersebut mengikuti persyaratan. Karena itu, mengecek ketentuan penjaminan membantu nasabah menghindari risiko yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Poin penting terkait keamanan simpanan:
Penjaminan simpanan memiliki batas nilai maksimum per nasabah per bank.
Terdapat persyaratan penjaminan yang dikenal luas sebagai “3T”, termasuk syarat terkait tingkat bunga yang diterima nasabah agar simpanan memenuhi ketentuan penjaminan.
Nasabah dianjurkan membandingkan bunga deposito yang ditawarkan dengan tingkat bunga penjaminan (TBP) yang berlaku pada periode tersebut, terutama ketika ada penawaran bunga tinggi yang terlihat tidak lazim.
Sering kali nasabah menghitung deposito hanya dari bunga tahunan yang tercantum. Padahal, imbal hasil yang benar-benar diterima adalah imbal hasil setelah pajak sesuai ketentuan perpajakan. Perhitungan ini penting agar keputusan menempatkan dana tidak didasarkan pada angka nominal yang belum final.
Komponen perhitungan yang perlu diperhatikan:
Bunga kotor: dihitung dari pokok deposito, suku bunga, dan tenor.
Pajak final atas bunga: dipotong otomatis sesuai ketentuan, sehingga yang masuk ke rekening adalah bunga bersih.
Efek tenor: deposito 1 bulan vs 3 bulan vs 6/12 bulan dapat menghasilkan strategi yang berbeda, terutama jika nasabah ingin menjaga fleksibilitas atau mengejar kepastian imbal hasil.
Agar deposito benar-benar membantu kesehatan keuangan, strategi penempatan dana perlu dibuat sederhana namun disiplin. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah “laddering” atau membagi dana ke beberapa tenor, sehingga dana tidak terkunci seluruhnya dalam satu jatuh tempo. Ini membuat likuiditas lebih terjaga, tanpa mengorbankan tujuan memperoleh bunga.
Strategi yang dapat dipertimbangkan nasabah:
Deposito laddering: bagi dana deposito ke tenor berbeda (misalnya 1–3–6 bulan) agar ada dana jatuh tempo bergiliran.
Pisahkan dana berdasarkan tujuan: dana darurat sebaiknya tetap likuid (tabungan/produk sangat cair), sementara deposito lebih cocok untuk dana tujuan yang waktunya jelas.
Tinjau suku bunga dan TBP secara berkala: pastikan bunga yang diterima tetap dalam batas wajar dan sesuai ketentuan penjaminan yang berlaku saat itu.
Hindari keputusan berbasis promosi semata: utamakan transparansi biaya/ketentuan, reputasi bank, serta kecocokan dengan kebutuhan arus kas.
Sebagai portal informasi ekonomi dan finansial, TuwagaFinance.id berkomitmen menghadirkan edukasi yang terstruktur dan aplikatif seputar simpanan, deposito, perbankan, serta perlindungan konsumen. Fokus utama TuwagaFinance.id adalah membantu publik memahami konteks (mengapa suku bunga bergerak), mekanisme produk (cara kerja deposito), dan aspek keamanan (penjaminan serta kewaspadaan terhadap penawaran tidak wajar), sehingga keputusan finansial dapat diambil secara lebih terukur.
TuwagaFinance.id adalah portal berita ekonomi dan finansial yang menyajikan informasi terverifikasi serta panduan praktis seputar perbankan, simpanan, pinjaman, kartu kredit, hingga keamanan transaksi.
Software Akuntansi ( Softansi.id ) dapat membantu usaha Anda menjadi lebih efisien, apapun bentuk proses bisnisnya. Buat penawaran penjualan, pengiriman pesanan, faktur penjualan, hingga penerimaan pembayaran dengan mudah dan cepat.
Lihat Semua Postingan ..Tersedia paket 1 Tahun Hemat Rp 444.000. Cek di sini